MAKALAH
LINGKUNGAN PENDIDIKAN
OLEH
:
1.
Wawan Septiawan
2.
Ridwan Nugroho
3.
Alif Lutfi Ghozali
4.
Tunggal Purnawan
5.
Muhammad Yusuf
UNIVERSITAS VETERAN BANGUN NUSANTARA SUKOHARJO
2012/2013
KATA
PENGANTAR
Puji syukur kami
panjatkan kepada Allah SWT, Tuhan yang Maha Esa karena dengan rahmat dan
hidayah-nya kami dapat menyelesaikan tugas dari bapak dosen untuk membuat
makalah yang berjudul “Lingkungan
Pendidikan”
ini dengan baik.
Terima kasih kami
ucapkan kepada bapak dosen yang telah mempercayakan kami untuk membuat makalah
ini. Tanpa bimbingan bapak kami tidak bisa apa-apa. Untuk itu kami berterima
kasih karena telah memberi bimbingan dan kesabaran dalam pembelajaran yang
selama ini bapak berikan kepada kami.
Kekurangan yang mungkin
ada pada makalah ini justru diharapkan mendorong para teman-teman mahasiswa
untuk melengkapinya dari sumber-sumber lain yang sesuai dan bagi bapak
Pembina/bapak dosen yag melihat kekurangan dari makalah kami ini mohon untuk
dapat membantu menyempurnakan makalah yang kami buat ini.
Semoga makalah ini
benar-benar bemanfaat dan dapat dipahami oleh pembacanya.
Sukoharjo, 06 November
2012
Penyusun
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL.............................................................................................. 1
KATA
PENGANTAR............................................................................................ 2
DAFTAR
ISI........................................................................................................... 3
BAB
I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah..................................................................................... 4
B.
Rumusan Masalah............................................................................................... 5
C.
Tujuan Penulisan................................................................................................. 5
D.
Manfaat Penulisan.............................................................................................. 6
BAB
II PEMBAHASAN
A.
Pengertian dan Jenis Pendidikan........................................................................ 7
B.
Karakteristik lingkungan Pendidikan.................................................................. 20
C.
Manfaat dan Fungsi Pendidikan......................................................................... 21
BAB
III PENUTUP
A.
Kesimpulan......................................................................................................... 23
B.
Saran................................................................................................................... 23
DAFTAR
PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Pertumbuhan dan
perkembangan manusia dipengaruhi faktor dari dalam maupun dari luar individu
yang bersangkutan. Faktor dari dalam dapat berupa faktor keturunan maupun faktor yang dibawa sejak lahir. Faktor
keturunan bisa bersifat genetik
yaitu faktor yang menurun terkait makhluk dan keturunan yang terbatas dari
kondisi orang tua. Apa yang dimiliki anak sejak lahir bukan lagi faktor yang
diperolah dari orang tua tetapi sudah ada pengaruh lingkungan sewaktu anak
masih dalam kandungan.
Selama anak masih
berada dalam kandungan memerlukan situasi keluarga yang nyaman, tenang, suasana
gembira. Dalam hal ini peranan seorang ayah sangat menentukan. Seorang ayah
sebagai kepala keluarga memang harus bertanggung jawab atas keselamatan
keluarga, ketenangan keluarga, ketentraman keluarga. Dalam keluarga yang tidak
tentram, keluarga yang kacau, akan sangat berpengaruh negatif tehadap anggota keluarga, terutama ibu yang
sedang mengandung sehingga akhirnya akan berpengaruh terhadap janin yang masih
dalam kandung itu.
Sehubungan dengan hal
tersebut maka sangat rasional adanya pendidikan pra natal, pendidikan sebelum
anak lahir. Harus kita sadari bahwa sifat- sifat, watak dan keadaan anak itu
merupakan hasil pewaris dari orang tuanya. Bila kedua orang tuanya baik-baik
maka dapat diharapkan anak- anaknya nanti akan baik, sebaliknya bila kedua
orang tuanya tidak baik maka anak-anaknya akan tidak baik pula. Oleh karena itu
pantaslah bila pemuda- pemuda dan pemudi - pemudi sebelum mempunyai anak harus
dididik lebih dahulu baru kemudian menikah yang akhirnya akan bisa mempunyai
anak-anak yang akan baik-baik pula. Konsep ini juga dinyatakan dalam UU No.20
tahun 2003 pasal 28, khususnya yang membahas tentang PADU (Pendidikan Anak Usia
Dini) yang meliputi pendidikan bayi, balita. Untuk selanjutnya pengaruh
lingkungan diluar anak terhadap perkembangan anak semakin bertambah banyak.
Terkaitnya dengan
pentingnya peran lingkungan terhadap perkembangan manusia seorang pendidik atau
guru harus mengenal berbagai jenis lingkungan, pengaruh terhadap perkembagan
peserta didik, serta mampu mengendalikan
lingkungan agar pengaruh positifnya terhadap proses hasil pendididikan atau
guru harus dapat menunjukan kemampuan :
1.
Menyebutkan berbagai jenis lingkungan
pendidikan
2.
Menyebutkan karakteristik setiap jenis
lingkungan pendidikan.
3.
Memanfaatkan setiap jenis lingkungan
pendidikan untuk
kepentingan mendidik.
B. Rumusan
Masalah
Pada bagian ini penulis
merumuskan masalah berdasarkan latar belakang. Penyusunan rumusan masalah ini
bertujuan untuk mendeskripsikan ruang lingkup masalah, pembatasan dimensi dan
analisis variabeI. Hal ini penting agar masalah yang diteliti tidak terlalu
luas, sehingga tingkat kepekaan dan kedalaman analisisnya cenderung lebih baik.
1. Sebutkan ruang lingkup lingkungan pendidikan?
2. Sebutkan karakteristik setiap jenis lingkungan
pendidikan?
3. Apa dampak dari setiap lingkungan pendidikan
terhadap peserta didik ?
4. Apa
manfaat setiap jenis lingkungan pendidikan unuk kepentingan mendidik?
C.
Tujuan Penulisan
Berdasarkan latar
belakang masalah dan rumusan masalah diatas, maka tujuan yang diharapkan dari
penelitian ini adalah :
1.
Untuk mengetahui berbagai jenis
lingkungan pendidikan.
2.
Untuk mengetahui karakteristik setiap
jenis lingkungan pendidikan.
3.
Untuk mengetahui manfaat setiap jenis
lingkungan pendidikan untuk
kepentingan mendidik.
4.
Untuk mengetahui kapan proses pendidikan
berakhir.
D.
Manfaat Penulisan
Hasil penulisan makalah
ini diharapkan memberikan pengertian dan manfaat bagi mahasiswa dan pembacanya.
Ada beberapa manfaat yang bisa kami lampirkan,antara lain:
1. Sebagai
sarana pembelajaran bagi mahasiswa dan pembaca untuk referensi sarana belajar.
2. Memberikan
kemudahan untuk memahami materi pembelajaran karena di ambil dari berbagai
pengertian mendasar tentang lingkungan pendidikan.
3. Memperkaya
dan mengembangkan kemampuan serta kehidupan memperluas pengetahuan mahasiswa.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertian dan Jenis Lingkungan
Pendidikan
1.
Pengertian
Lingkungan Pendidikan
Proses pendidikan selalu berlangsung dalam suatu
lingkungan tertentu, baik lingkungan yang berhubungan ruang maupun waktu.
Dalam konteks pendidikan pengertian lingkungan
adalah segala sesuatu yang berada disekitar terjadinya kegiatan mendidik dan
berpotensi memberikan pengaruh terhadap proses dan hasil pendidikan. Pengertian
lingkungan mengandung konotasi dalam segi positifnya dan ada yang menyebut dengan
istilah milleu, artinya belum menampakkan pengaruhnya terhadap proses dan hasil
pendidikan, baru berstatus sebagai faktor pendidikan. Namun kalau sudah masuk
dalam proses maka lingkungan dapat berubah menjadi alat pendidikan.
Lingkungan dalam kaitan dengan pendidikan adalah
segala sesuatu yang berada diluar diri anak dalam alam semesta ini (Depdikbud,
1981:85). Pengertian ini sejalan dengan pandangan Imam Bardani, MA, yang
mengatakan bahwa lingkungan adalah segala keadaan yang ada disekitar anak didik.
Proses pendidikan dapat berlangsung bila ada wadahnya, lapangan atau
lingkungannya.
Sutan Zanti Arbi, Syahniar Syahrun (1991/1992:31)
juga memberikan pengertian bahwa “Lingkungan pada hakikatnya merupakan sesuatu
yang ada diluar diri individu walaupun
ada yang menyatakan bahwa ada lingkungan yang terdapat dalam diri individu” .
Drs. Suwarno (1974: 55) yang mengutip pendapat M.J.
Langeveld dan Ki Hajar Dewantara, memandang lingkungan sebagai badan atau wadah
berlangsungnya proses pendidikan.
Dengan demikian dari berbagai pendapat diatas,
jelaslah bahwa yang dimaksud dengan lingkungan pendidikan adalah segala sesuatu
yang ada diluar diri peserta didik,dalam alam semesta ini yang menjadi wadah
atau wahana, yang nyata dapat diamati, seperti tumbuhan, binatang, orang-orang,
dsb.
Pendidik merupakan bagian dari lingkungan juga,
tetapi karena sifat pengaruhnya berbeda dengan pengaruh yang diberikan oleh
lingkungan lainnya maka pendidik dipisahkan dari lingkungannya. Pengaruh pendidik merupakan pengaruh yang mengandung
unsur tanggung jawab, sedangkan pengaruh lingkungan hanya merupakan pengaruh
belaka, tidak tersimpul unsur tanggung jawab di dalamnya.(Sutari Imam
Barnadib,1987:117).
2.
Jenis
lingkungan
a. Jenis
lingkungan menurut wujud fisiknya dibagi menjadi 4 yaitu:
1)
Lingkungan alam (benda)
Adalah segala sesuatu yang ada di bumi yang berada di luar diri anak yang bukan manusia
atau benda-benda yang ada disekitar manusia. Misalnya: tanah, batu, binatang,
tumbuh-tumbuhan,
iklim, air, gedung,
rumah, dan benda-benda alam lainnya.
2)
Lingkungan sosial
Adalah semua manusia yang berada diluar diri
seseorang yang dapat mempengaruhi diri orang tersebut atau lingkungan yang
berwujud manusia. Misalnya: teman sekolah, teman sebaya, atau orang sekitar
tempat tinggal merupakan lingkungan sosial yang bersifat langsung. Sedangkan
progam-progam dalam televisi, radio, surat kabar, atau media cetak yang lainnya
termasuk lingkungan sosial yang tidak langsung.
3)
Lingkungan budaya
Adalah lingkungan yang berupa hasil cipta karsa, dan
karya manusia termasuk didalamnya ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.
Misalnya: seni tari, seni musik, dan ilmu pengetahuan alam.
4)
Lingkungan moral
Adalah segala
sesuatu yang mengatur tata laku manusia, baik yang diciptakan manusia sendiri.
Misalnya: sopan santun, beribadah, dan menghormati orang yang lebih tua.
b. Manusia
ditinjau dari luasnya lingkup pergaulan peserta didik dibagi menjadi 3 yaitu:
1)
Lingkungan Keluarga
Keluarga memiliki wewenang secara kodrat untuk
mandidik anak-anaknya. Anak-anak pertama-tama mendapatkan pendidikan adalah
lingkungan keluarga. Pendidikan yang pertama-tama diterima olah anak-anak
adalah pendidikan dilingkungan keluarga. Pendidik dalam lingkungan keluarga
adalah orang tua (bapak dan ibu). Oleh karena itu orang tua biasa mendapat predikat
pendidik yang pertama dan utama. Dikatakan pendidik pertama karena pertama-tama
anak mendapatkan pendidikan adalah pendidikan dari orang tua mereka sebelum
anak-anak memasuki lingkungan-lingkungan pendidikan yang lain.
Orang tua juga dikatakan sebagai pendidik utama
karena terletak pada orang tualah,
tanggung jawab pendidikan anak-anaknya. Pendidik-pendidik yang lain (disekolah,
dilingkungan, masyarakat) bukan merupakan pendidik utama. Oleh karena itu
pendidikan terhadap anak pertama-tama diberikan oleh orang tua ditambah dengan
penanggung jawab utama pendidikan anaknya. Dengan demikian tidak salah apabila
orang tua mendapat predikat sebagai pendidik pertama dan pendidik utama.
Menurut Ki Hajar Dewantara pendidik dalam lingkungan
keluarga terutama bertanggung jawab tentang pendidikan budi pekerti. Tekanan di
sini adalah pembentukan moral, budi pekerti dengan harapan melewati pendidikan
keluarga akan menjadikan anak yang bermoral mulia, yang selanjutnya akan
dikembangkan lebih lanjut dalam pendidikan di sekolah-sekolah dan lingkungan
masyarakat.
Menurut kodratnya manusia adalah homo socius, yaitu
sebagai makhluk sosial. Oleh karena itu manusia dalam hidupnya selalu
berkelompok. Oleh Charles H. Coobly kelompok dibagi menjadi dua macam kelompok,
yaitu kelompok primer dan sekunder.
a) Ciri-ciri
kelompok primer/sekunder.
(1) Terdapat interaksi sosial yang lebih berat
antara anggotanya ,terdapat
hubungan face to face, hubungan yang satu dengan yang lain dari hati ke hati.
(2) Sering hubungannya bersifat irasional dan tidak
didasarkan pamrih.
(3) Dalam
kelompok primer manusia selalu
mengembangkan norma-norma, melepas kepentingan sendiri demi kepentingan
kelompok. Contoh kelompok primer adalah keluarga, kelompok belajar, kelompok permainan, kelompok agama (Abu Ahmad, 1979:40-41).
b) Ciri
keluarga
Keluarga
sebagai lembaga pendidikan mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
(1) Sebagai
pendidikan pertama
Sebelum anak memasuki lembaga pendidikan yang lain, ia
diberikan pendidikan oleh keluarganya. Sebagai pendidikan pertama artinya
pendidikan yang diberikan oleh keluarga merupakan pendididikan yang pertama kali diberikan kepada anak. Maka
keluarga memberikan dasar-dasar pendidikan kepada anak untuk selanjutkan
dikembangkan disekolah dan masyarakat.
(2) Sebagai
pendidik utama
Utama, artinya pendidikan yang diberikan oleh keluarga
sangat penting, karena anak sepanjang hidupnya paling banyak waktu dihabiskan
dalam keluarga bila dibandingkan dengan lembaga yang lain. Oleh karena pengaruh
keluarga terhadap perkembangan anak sangat besar, baik dalam perkembangan
jasmani maupun rohani. Di dalam keluarga anak-anak mendapatkan pendidikan
tentang keutamaan/etika. Dasar-dasar keagamaan, kesosialan, moralitas dan
sebagainya.
Adapun fungsi
pendidikan keluarga, adalah:
a. Mengembangkan jasmani anak.
Sehari-hari
orang tua bekerja karena mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan dan kesehatan
keluarga, anak-anak, membiasakan hidup sehat, menjauhkan diri dari hal-hal yang
menyebabkan sakit. Anak yang sehat akan berani bermain, berani bereksplorasi ke
dunia
luar, sehingga perkembangan sosialnya, ketrampilan dan otaknya serta
intelegensinya terjamin.
b. Perkembangan sosial
Orang
tua berusaha agar anaknya kelak menjadi warga masyarakat yang baik dan
mampu menyesuiakan diri dalam
masyarakat. Oleh karena itu sejak dini diajar bagaimana menghormati orang yang lebih tua,
menghadapi tamu, bersikap dan berbahasa sesuai dengan adat istiadat yang berlaku di lingkungannya.
c. Perkembagnan ketrampilan
Ketrampilan merupakan bekal hidup
sehari-hari setelah dewasa agar dapat hidup mandiri juga diberikan dalam
keluarga dengan jalan mengikutsertakan anak dalam kehidupan sehari-hari.
Seorang anak putri akan berpartisipasi terhadap ibunya dalam kehidupan di dapur, bagaimana cara memasak dan
menghidangkan makanan, sampai dia dapat melaksanakan sendiri tanpa didampingi
oleh ibunya. Sebaliknya seorang laki-laki akan membantu ayahnya di ladang, mencakul, membajak,
memelihara ternak dan akhirnya dia melaksanakan sendiri sesudah dewasa kemudian
menikah dan berkeluarga. Demikian cara mendidik tenaga terampil dalam
masyarakat yang masih sederhana, cukup dengan berpartisipasi dalam kehidupun
sehari-hari.
Dalam masyarakat yang modern kebutuhan hidup
makin komplek. Maka cara-cara semacam itu tidak cukup untuk melatih
ketrampilan, perlu ahli-ahli khusus, misalnya ingin membuat macam-macam hal dan
masakan perlu khusus atau sekolah (Simanjutak,193:13-15)
d. Perkermbangan emosional/kasih
sayang
Salah
satu kemenangan keluarga dalam mendidik anak ialah kemampuan memberikan kasih
sayang kepada anak secara sempurna, karena secara kodrat anak dilahirkan di
dalam satuan keluarga orang tua akan mengasuh dengan penuh kaih sayang yang
sangat dibutuhkan oleh anak untuk berkembang secara wajar.
Menurut
ilmu jiwa dalm (Sigmud Freud), memberikan pengalaman emosional anak pada tahun-tahun
pertama yang tidak menyenangkan
akan ditekan kebawah sadar (ketidak sadran). Hal-hal yang demikian itu tetap
hidup dan tidak lenyap yang sewaktu-waktu dapat muncul berupa bermacam-macam
gejala diantaranya mengeja dalam bentuk penyakit jiwa (B.G
Palland,1959;599-600).
(3) Sebagai
lembaga pendidikan informal
Ciri pendidikan keluarga yang ketiga ialah informal
artinya bahwa dalam keluarga tidak terdapat tujuan yang spesifik tanpa
kurikulum tanpa jenjang seperti peraturan secara tertulis lembaga pendidikan
formal. pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan (UU
No.20:2003 pasal 1). Pendidikan dalam keluarga tidak didasarkan pada
aturan-aturan yang ketat, pelaksanaannya secara praktis, dan hubungan antara
orang tua sebagai pendidik dengan anak-anak sebagai peserta didik adalah
hubungan darah atau kodrati.
2)
Lingkungan sekolah
Adalah
lingkungan pergaulan diluar keluarga tetapi masih memiliki sifat kekeluargaan
yaitu lingkungan sekolah.
Setelah anak dianggap
matang untuk memasuki sekolah, maka pendidikan diteruskan dengan mengikuti
pendidikan disekolah. Sekolah merupakan lembaga pendidikan dalam masyarakat
yang menyalenggarakan kegiatan pendidikan kepada anak-anak yang telah
“diserahkan” orang tuanya di sekolah tertentu.
Pendidikan di sekolah merupakan pendidikan
formal yang dilakukan oleh para guru yang telah dipercaya oleh masyarakt untuk
menyelenggarakan pendidikan yang bersifat formal. Pendidikan formal adalah
jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan
dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi (menurut UU No. 20 tahun 2003).
Para guru menyelenggarakan pendidikan dengan mendasarkan diri kepada kurikulum
atau rencana pelajaran tertentu sesuai dengan tingkat kelasnya serta berbagai
aturan yang berlaku disekolah-sekolah tersebut. Dengan demikian
pendidik-pendidik di lingkungan sekolah
adalah para guru dengan dikoordinasi oleh kepala sekolah.
Isi pendidikan serta kegiatan pendidikan
disekolah telah diatur dalam kurikulum sekolah yang bersangkutan, juga
didasarkan kepada berbagai aturan yang berlaku disekolah yang bersangkutan.
(a) Satuan
pendidikan
Satuan
pendidikan adalah kelompok layanan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan
pada jalur formal, nonformal, dan
informal pada setiap jenjang dan jenis pendidikan (menurut UU No.20 tahun
2003). Yang disebut sekolah merupakan bagian dari pendidikan yang berjenjang
dan kesinambungan. Menurut asalnya sekolah berasal dari kata schola yang
artinya waktu senggang atau waktu kosong yang diisi dengan diskusi untuk
membicarakan ilmu pengetahuan.
Pada
waktu masyarakat masih sederhana kebutuhan masih sederhana. Untuk pemenuhan
kebutuhan masih dapat dipenuhi oleh keluarga. Makin maju masyarakat kebutuhan
semakin komplek. Ciri masyarakat maju ialah adanya tugas spesifikasi dalam
setiap anggota masyarakat.
Tugas
pendidikan oleh keluarga dialihkan kepada sekolah yang dilaksanakan oleh guru.
Tentu saja tujuan pendidikan dalam keluarga tidak berbeda dengan sekolah ialah
menjadikan anak manusia yang dewasa ataupun diri sendiri atas tanggung jawab
sendiri. Syarat suatu sekolah ialah adanya prasarana yang berupa gedung dan
alat-alat berupa
buku. Syarat yang kedua ialah manusia yang bertanggung jawab atas
terselengaranya proses mendidik anak-anak menjadi dewasa, hal ini termasuk
guru-guru dan kepala sekolah yang bertanggung jawab semuanya.
(b) Kriteria lembaga sekolah
(1) Formal
Sekolah merupakan lembaga formal, artinya dalam
sekolah ada tujuan yang jelas tercantum dalam kurikulum. Untuk menjadi tujuan
tersebut, ada tahap-tahap atau jenjang, materi atau bahan yang ingin dicapai
tiap tahap sudah tersusun dalam kurikulum.
Ada cara menilai pencapaian tiap tahap. Ada
pengadministrasian nilai yang dicapai oleh peserta didik berupa daftar nilai atau rapor.
(2) Tidak
bersifat kodrat
Sekolah berbeda dengan keluarga yang bersifat
kodrat. Guru mengajar murid bukan karena hubungan persaudaraan atau hubungan
keturunan, melainkan karena guru mempunyai profesi sebagai pendidik dan
pengajar.
(c) Fungsi sekolah
(1) Sekolah
sebagai pusat, lembaga, lingkungan pendidikan, wiyata mandala, dengan wawasan
ini diharapkan sekolah benar-benar berfungsi yang tepat dan tidak disalah
gunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Ada pengertian pokok
bahwa sekolah mempunyai tugas atau fungsi untuk menyelenggarakan proses belajar
mengajar yang dilaksanakan secara terencana, tertib, dan teratur, sehingga
menghasilkan tenaga-tenaga terdidik yang senantiasa diperlukan bagi pembangunan
nusa dan bangsa.
(2) Sekolah
berfungsi sosialisasidi masyarakat.
Sosialisasi
adalah suatu proses untuk mempelajari cara-cara hidup bermasyarakat. Demikian
pula di sekolah anak-anak dipersiapkan dengan berbagai ketrampilan dan bersikap untuk hidup nantinya (Saleh
Sugiato,1989;86).
(3) Sekolah
berfungsi sebagai konservatori dan transmisi nilai-nilai budaya.
Hasil
kebudayaan masyarakat yang bernilai tinggi berusaha untuk dikembangkan kemudian
diwarisakan kepada generasi penerus. Sehingga nilai budaya itu tidak lenyap,
misalnya ilmu pengetahuan, teknologi, kesenian dikembangkan disekolah,
dipelajari untuk diwariskan kepada generasi berikutnya.
(4) Sekolah
sebagai miniatur masyarakat, artinya sekolah hendaknya menggambarkan kehidupan
masyarakat, karena sekolah juga sebagai persiapan kehidupan masyarakat.
Misalnya kehidupan masyarakat demokratis, maka kehidupan masyarakat harus
demokratis.
(5) Sekolah
sebagai masyarakat yang ideal, artinya bahwa dalam masyarakat terdapat corak
kehidupan, yaitu ada yang mempunyai nilai baik, namun ada pula yang memiliki
nilai buruk. Sekolah merupakan bentuk masyarakat ukuran kecil, nilai kehidupan yang rendah
yang terdapat dalam masyarakat, misalnya penyakit masyarakat (percurian,
perjudian, pelacuran,minum-minuman keras) yang istialh jawabnya “ma lima”,
dikenal disekolah untuk dihindari, yang dikembangkan disekolah nilai-nilai
kehidupan yang tinggi, seperti: seni tari, seni drama, dsb.
(d) Macam – macam sekolah
Mengenal macam-macam sekolah ini Dapat dibedakan
berdasarkan berbagai segi. Ditinjau dari segi penyelenggaraannya dapat dibagi
manjadi dua :
Ø
Sekolah negeri
Sekolah
negeri adalah sekolah yang didirikan oleh pemerintahan dibiayai oleh negara.
Ø
Sekolah swasta atau sekolah partikekir
Sekolah
swasta atau sekolah partikekir ialah sekolah yang didirikan dan dibiayai badan
swasta dalam bentuk yayasan yang disahkan oleh notaris. Eksistensi sekolah
swasta sekarang berbeda dengan jaman penjajahan. Sekolah swasta sekarang
dipandang sebagai mitra pemerintah. Oleh karena itu swasta dibantu berupa perkembangannya
berupa gedung, peralatan, dan guru.
Untuk
mejaga mutu sekolah swasta diadakan akreditasi oleh pemerintahan. Untuk
mendapat jenjang tertentu atau status, yang dinilai dalam akreditasi tersebut
ialah sarana dan prasarana, administrasi dan kelayakan guru-gurunya, serta
pemanfaatan sekolah oleh masyarakat sekitarnya. Perolehan status tersebut
berkaitan dengan hak melaksanakan ebtanas atau evaluasi berjalan tahap akhir nasional. Untuk
menjaga kualitas sekolah dalam melaksanakan kurikulum yang tepat disekolah dan
situasinya bermacam-macam, oleh pemerintahan diadakan ebtanas.
Sebagian bidang studi yang di ebtanaskan,
sedang yang lain cukup diebtakan saja. Dari ebtanas tersebut akan didapatkan
nem (nilai ebtanas murni). Siswa pada kelas terakhir suatu jenjang sekolah,
akan mendapatkan surat tanda tamat belajar (STTB).
Ø Mengenai
sekolah dapat dibedakan :
a. Terdaftar, sekolah yang berstatus terdaftar belum
boleh menyelenggarakan ebtanas sendiri, melainkan harus digabung dengan sekolah
negeri terdekat atau sekolah swasta yang statusnya disamakan/sekolah itu juga
tidak berhak mengeluarkan STTB untuk muridnya, tetapi STTB atas nama sekolah
yang digabungi.
b. Diakui
sekolah yang berstatus diakui boleh
menyelenggarakan ebtanas sendiri dan menentukan kelulusan muridnya serta
memberi STTB kepada muridnya sendiri.
c. Disamakan,
yaitu status yang paling tinggi. Sekolah yang berstatus ini sebagai
penyelenggaraan ebtanas bahkan dapat digabung oleh sekolah swasta terdaftar
disekitarnya atau dapat dijadikan ketua sub rayon.
3)
Lingkungan masyarakat
Adalah orang-orang yang ada diluar lingkungan
keuarga dan sekolah, masyarakat umum, para pejabat, para pedagang, para ulama,
para pemimpin dsb.
Lingkungan ini ada yang terstruktur ada yang tidak
terstruktur, semuanya berpotensi mempengaruhi perkembangan jiwa dan raga anak,
baik langsung, maupun tidak langsung,sengaja maupun tidak disengaja.
Menurut ketetapan MPR No. II/MPR/1988, bahwa
pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga masyarakat dan
pemerintahan. Undang-undang No. 2 tahun 1989 tentang system pendidikan nasional
pada pasal 9 ayat 1 menyebutkan bahwa satuan pendidikan menyelenggarakan
kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan disekolah ataupun diluar sekolah.
Pada ayat 3 dinyatakan bahwa satuan pendidikan luar sekolah meliputi keluarga,
kelompok belajar, dan satuan pendidikan.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan, bahwa
lingkungan sebagai badan atau lembaga tempat berlangsungnya kegiatan pendidikan
adalah keluarga, masyarakat dan pemerintah.
Ketika
lembaga atau lingkungan pendidikan
tersebut pada hakikatnya mempunyai fungsi yang sama, yaitu menyelenggarakan
lingkungan pendidikan. Tentu saja mengenai bentuk, isi/materi, sifat, metode
dan semacamnya didalam penyelenggaraan pendidikan tersebut berbeda satu dengan
yang lain, sesuai dengan kekhususan atau karakteristik masing-masing.
Lingkungan masyarakat juga diartikan lingkungan ketiga
dalam proses pembentukan kepribadian anak-anak sesuai dengan keberadaannya.
Pada lingkungan keluarga telah dikemukakan perannya dalam pembentukan
anak-anak, demikian juga dengan lingkungan sekolah. Lingkungan mayarakat akan
memberikan sub bagian yang sangat berarti dalam diri anak apabila diwujudkan
dalam proses dan pola yang tepat. Tidak semua ilmu pengetahuan, sikap,
ketrampilan, maupun kecakapan, dapat diberikan sekolah ataupun keluarga karena
keterbatasan lembaga tersebut. Kekurangan yang dirasakan akan dapat diisi dan
dilengkapi oleh lingkungsn masyarakat dalam membina pribadi.
Lingkungan pendidikan berfungsi sebagai “pengganti”
(substitute), hanya menyediakan pendidikan bukan sekedar tambahan atau
pelengkap tetapi mengadakan pendidikan yang berfungsi sama dengan lembaga
pendidikan formal disekolah, sehingga tidak mampu melayani semua lapisan
masyarakat yang ada. Seperti kursus pengetahuan dasar, kursus PKK, atau kursus
ketrampilan.
Lingkungan
pendidikan juga mampu menyediakan pendidikan yang berfungsi sebagai tambahan
bab suplement. Untuk memantapkan pembelajaran yang ada disekolah/pendidikan
formal maka diadakan kursus diluar progam pendidikan formal. Misalnya :
bimbingan belajar, bimbingan tes (bagi siswa yang akn melanjutkan ke perguruan
tinggi).
Bagi daerah yang terisolasi atau karena komonikasi
belum lancar, pendidikan melalui lingkungan masyarakat berperan labih aktif bila dibandingkan dengan
daerah yang lain (lingkungan masyarakat kota). Lingkungan masyarakat kota lebih
ditekankan pada kesibukan dan kebisingan serta individulisme, memaksa setiap
anggota masyarakat tidak berpangku tangan tetapi aktif, kreatif, dinamis, dan
tidak mengenal menyerah. Menyerah berarti kalah atau mati. Lingkungan desa yang
penuh, kaya akan sumber-sumber alam kondisi yang baik untuk berkarya. Dengan
demikian, lingkungan ikut menentukan dan mempengaruhi keadaan warga.
Pendidikan dalam lingkungan masyarakat akan
berfungsi sebagai: (a) pelengkap (complementer), (b) pengganti (subtitute), (c)
tambahan (suplement), terhadap pendidikan yang diberikan lingkungan.
Dalam lingkungan ini akan dapat dikembangkan
bermacam-macam instansi maupun jawatan dan lembaga pendidikan maupun
non-pendidikan. Kegiatan pendidikan yang berfungsi sebagai pelengkap
perkembangan individu maupun kelompok ialah kegiatan pendidikan yang
berorientasi melengkapi kemampuan, ketrampilan kognitif maupun peformans seseorang,
sebagai akibat belum mantapnya apa yang telah mereka terima pada sekolah atau
keluarga. Kegiatan seperti ini mencakup antara lain:
§
perkembangan rasa sosial dalam berkomunikasi dengan
orang lain.
§
pembinaan sikap dan kerjasama dengan
anggota masyarakat.
§ pembinaan
ketrampilan dan kecakapan khusus yang belum didapat disekolah.
Bentuk-bentuk pendidikan dalam lingkungan masyarakat
antara lain dilakukun organisasi pemuda dan kepramukaan atau organisasi
lainnya. Seperti yang dilakukan pramuka dalam jambore atau kepramukaan dalam
tingkat propinsi, kabupaten atau kecamatan. Disamping itu apa yang dilakukan
organisasi lainnya seperti Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), pembinaan
pemuda melalui sanggar pemuda atau pembinaan pemuda dengan antar propinsi atau
antar negara dan sebagainya. Tidak dapat diabaikan pula keikutsertaan
organisasi lainya dalam menyediakan lingkungan pendidikan ini, seperti
perkumpulan olah raga dan kesenian.
Dalam
ketetapan porpenas tahun 2000-2004 bagian pendidikan berbunyi sebagai berikut:
pendidikan merupakan proses budaya untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia. Pendidikan berlangsung seumur hidup
dan dilaksanakan di dalam lingkungan
keluarga, sekolah, dan masyarakat karena itu pendidikan merupakan tanggung
jawab bersama antar keluarga, masyarakat, dan pemerintah.
Pendidikan seumur hidup memungkinkan
terselenggarakannya suatu usaha atau kegiatan pendidikan untuk anak-anak dan
orang dewasa, terutama bagi mereka yang tidak berkesempatan sekolah tingkat
sekolah dasar. Mereka pada umumnya tidak memiliki pengetahuan dan ketrampilan
kerja produktif
sehingga sulit memperoleh lapangan kerja yang baik dan layak.
Hendaknya
perlu usaha yang sungguh-sungguh untuk menanamkan, memupuk, dan mengembangkan
kesadaran setiap orang atau anggota masyarakat melalui pendidikan. Agar didalam
diri mereka tumbuh sikap mental yang positip sehingga dapat ikut serta di dalam
proses pembaharuan dan pembangunan lingkungan secara aktif.
B.
Karakteristik Lingkungan Pendidikan
Pembahasan tentang karakteristik lingkungan ini ditinjau dari kualitas dan kuantitas pengaruhnya terhadap proses
pendidikan. Lingkungan alam merupakan lingkungan yang pasif tetapi juga
berpengaruh terhadap pendidikan anak, baik dalam proses belajar maupun dalam
pembentukan kepribadian keseluruhannya. Lingkungan alam yang keras akan
mengganggu proses pendidikan tetapi juga akan membuat pribadi yang tangguh,
ulet dsb.
Lingkungan keluarga yang harmonis akan berpengaruh
yang baik bagi perkembangan pribadi anak secara umum dan sebaliknya lingkungan
keluarga yang diharmonis akan berpengaruh buruk bagi perkembangan anak.
Demikian juga lingkungan budaya.
C. Pemanfaatan
dan Fungsi Pendidikan
Lingkungan pendidikan ada yang tidak dapat
dikendalikan, ada yang dapat dikendalikan, dan ada juga yang tidak dapat
dipengaruhi oleh pendidik tetapi dapat dipengaruhi oleh pihak lain.
1.
Contoh dari lingkungan yang tidak dapat dikendalikan
antara lain :
v Banjir
v Tanah
longsor
v Gunung
meletus, Dsb.
2. Contoh dari lingkungan yang dapat di
kendalikan antara lain :
Ø Lingkungan
sosial contohnya:
v
Gotong
royong
v
Mau
ikut mengubur orang yang sudah meninggal
v
Saling
membantu
v
Saling
menolong, dsb.
Ø Lingkungan
budaya contohnya:
v
Melestarikan
tari daerah
v
Melestarikan
seni budaya
v
Melestarikan
reog ponorogo
v
Melestarikan
alam lingkungan, dsb.
Ø Lingkungan
moral contohnya:
Kita bergaul sesama teman dengan pergaulan tersebut kita
dapat mendapatkan efek yang begitu mutlak
yang
dimaksud di sini kalau kita bergaulnya sama orang yang baik kita juga akan
menjadi baik, tapi kalau kita bergaulnya sama orang yang tidak baik kita pun
akan menjadi orang yang tidak baik.
3. Contoh dari lingkungan yang tidak dapat
dipengarui oleh pendidik tetapi dapat dipengaruhi oleh orang lain ialah:
Ø Lingkungan
ekonomi contohnya: Kebutuhan
ekonomi setiap individu tidak ada yang sama.
Lingkungan sosial, lingkungan budaya, lingkungan
moral yang tidak menguntungkan bagi pendidikan dapat diupayakan agar
pengaruhnya tidak menyentuh proses pendidikan. Namun orang tua yang miskin,
pengaruh lingkungan dari media masalah-masalah
sosial dan sebagainya diluar kekuasaan pendidik atau yang disebut guru sehingga
pengendaliannya juga harus oleh pihak yang berwenang, misalnya oleh
pemerintahan.
Pendidik harus dapat menyeleksi lingkungan yang
berpengaruh positif dan menghindari pengaruh yang negative tetapi dalam batas
apa yang menjadi kewenangannya termasuk juga mengubah lingkungan yang dapat
dimanfaatkan untuk membentuk tercapainya tujuan pendidikan.
Ø
Fungsi pendidikan
Dalam membahas fungsi pendidikan ini
akan difokuskan pada tiga fungsi pokok pendidikan, yakni:
1. Pendidikan sebagai penegak nilai
2. Pendidikan sebagai sarana pengembangan
masyarakat
3.
Pendidikan sebagai upaya pengembangan potensi manusia.
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Lingkungan
sekitar terjadinya proses pendidikan merupakan faktor pendidikan yang dapat
diubah menjadi alat pendidikan.
2. Lingkungan
pendidikan terdiri dari lingkungan alam, lingkungan sosial, lingkungan budaya,
lingkungan keagamaan.
3. Ada
lingkungan yang tidak dapat diperbaruhi, lingkungan yang dapat diperbaruhi, dan
ada lingkungan yang tidak dapat di perbaruhi pendidikan tetapi dapat
dipengaruhi pihak lain.
4. Tugas
pendidik adalah menyeleksi lingkungan yang berpengaruh positif terdapat proses
dan hasil pendidikan.
B.
Saran
Sebagai peserta didik
wajib mengelola lingkungan pendidikan dengan baik
karena lingkungan pendidikan sangatlah penting bagi kehidupan semua manusia.
Lingkungan pendidikan ialah salah satu sarana untuk pengembangan diri individu.
Oleh sebab itu setiap peserta didik harus pintar-pintar memilih lingkungan
pendidikannya biar tidak salah
pergaulan.
DAFTAR
PUSTAKA
Sugiono. 2011. Pedagogik Terapan. Surabaya: UNIPA
Ali, Mohammad. 2007. Ilmu
dan Aplikasi. Bandung: Pedagogik
Budiyanto,dkk. 2004. Pengantar Pendidikan Luar
Biasa.
Surabaya:
Unipress
Munib Achmad, dkk. 2007.
Pengantar Ilmu Pendidikan. Semarang UPT MKK UNNES
Tirtaraharja. Umar dan S.L.
Sulo. 2005. Pengantar Pendidikan.
Jakarta : Rineka Cipta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar