Cari Blog Ini
Tampilkan postingan dengan label pengetahuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pengetahuan. Tampilkan semua postingan
Kamis, 26 Desember 2013
Senin, 07 Oktober 2013
pembelajaran matematika kontekstual
PEMBELAJARAN MATEMATIKA KONTEKSTUAL
(CTL)
MATA KULIAH : MATEMATIKA 2
OLEH
1. DWI HARSONO 125200005
2. WAWAN
SEPTIAWAN 125200019
3. PAMUNGKAS
GIGIH DWI. S 125200024
4. MIKI HARI
PRADIPTA 125200032
PROGDI
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
UNIVERSITAS VETERAN
BANGUN NUSANTARA
SUKOHARJO
PEMBELAJARAN
MATEMATIKA KONTEKSTUAL (CTL)
A.
Pengertian Pembelajaran Matematika Kontekstual
Pendekatan kontekstual adalah pendekatan dengan konsep
belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan
situasi dunia nyata dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan
yang dimiliki dan penerapannya dalam kehidupan (Nurhadi,2002:1). Pendekatan ini
mengakui bahwa belajar hanya terjadi jika siswa memproses informasi atau
pengetahuan baru sehingga dirasakan masuk akal sesuai dengan kerangka berpikir
yang dimilikinya. Maka pembelajaran matematika kontekstual adalah pembelajaran
matematika dengan pendekatan kontekstual. Proses pembelajaran berlangsung
alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer
pengetahuan dari guru ke siswa.
Beberapa ciri khas dalam pembelajaran matematika
kontekstual, antara lain, sebagai berikut:
1. Titik awal
proses pembelajarannya adalah penggunaan masalah berkonteks kehidupan nyata
(kontekstual) yang konkret atau yang ada dalam alam pikiran siswa.
2. Pembelajaran
ini menghindari cara mekanik yaitu berfokus pada prosedur penyelesaian soal.
3. Siswa
diperlakuakn sebagai peserta aktif dengan diberi keleluasaan menemukan sendiri
atau mengembangkan alat, model dan pemahaman matematis melalui penemuan dengan
bantun guru atau diskusi bersama teman.
B. Kunci Dasar
Pembelajaran Kontekstual
The Northwest Regional Education
Laboratory USA (dalam Asikin, 2003) mengidentifikasi adanya 6 kunci
dasar yang menentukan kualitas dari pembelajaran konteksatual, yaitu:
1. Pembelajaran
bermakna
Pembelajaran dirasakan sangat
terkait dengan kehidupan nyata atau siswa mengerti manfaat isi pembelajaran,
jika mereka merasakan berkepentingan untuk belajar demi kehidupan di masa
mendatang.
2. Penerapan
pengetahuan
Jika siswa mampu memahami apa yang
dipelajari maka siswa mendapat menerapkannya dalam tatanan kehidupan.
3. Berpikir
tingkat tinggi
Siswa diminta untuk berpikir kritis
dalam pengumpulan data, pemahaman suatu isu dan pemecahan suatu masalah.
4. Kurikulum
yang dikembangkan berdasarkan kepada standar
Isi pembelajaran harus dikaitkan
dengan standar lokal, nasional dan perkembangan IPTEK dan dunia kerja.
5. Responsif
terhadap budaya
Guru harus memahami dan menghormati
nilai, kepercayaan, dan kebiasaan siswa, sesama rekan guru dan masyarakat
tempat ia mendidik.
6. Penilaian
autentik
Berbagai macam strategi penilaian
digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa yang sesungguhnya meliputi:
penilaian proyek dan kegiatan siswa, dan panduan pengamatan disamping
memberikan kesempatan kepada siswa untuk aktif menilai pembelajaran mereka sendiri.
C. Metode dan
Setrategi dalam Pembelajaran Kontekstual
Dalam pelaksanaannya rancangan pembelajaran mengacu
pada :
1. Pembelajaran
dimulai dari hal konkret ke hal yang abstrak, dari hal yang mudah ke yang sulit
dan dari yang sederhana ke yang kompleks,
- Pelaksanaan pembelajaran memperhatikan pengoptimalan media yang mengarah pada pelibatan siswa secara aktif baik fisik, mental maupun sosial.
Pembelajaran matematika kontekstual dapat menggunakan
beberapa media antara lain:
- LKS berkarakteristik CTL
LKS ini merupakan pendukung
pelaksanaan pembelajaran. Pengerjaan LKS ini dilaksanakan secara kelompok.
Media ini dibuat sebagaimana LKS yang sudah ada tapi berkarakteristik CTL,
dimana siswa diarahkan untuk melakukan penemuan (inquiry) dan pemecahan
masalah (problem solving).
2. Kartu
masalah
Media ini berupa kartu yang
mencantumkan masalah untuk diselesaikan oleh siswa. Permasalahan yang diangkat
adalah permasalahan sehari-hari yang berhubungan dengan penggunaan materi yang
diajarkan. Penggunaan kartu ini dimaksudkan untuk mengatasi keterbatasan ruang,
dan lingkungan belajar siswa tanpa menghilangkan esensinya.
3. Lingkungan
belajar
Penggunaan lingkungan belajar
merupakan salah satu solusi dari keterbatasan prasarana belajar. Pada
pelaksanannya digunakan beberapa benda yang ada di kelas sebagai media dan alat
peraga. Penggunaannya dikaitkan dengan penggunaan LKS. Beberapa benda yang
digunakan antara lain: meja, buku tulis, pigura dan lain-lain yang dimanfaatkan
siswa.
D. IMPLIKASI
Sebuah kelas dikatakan
menggunakan pendekatan CTL jika menerapkan ketujuh komponen tersebut dalam
pembelajarannya. Tujuh komponen tersebut adalah:
1. Contructivism
(Kontruktivisme)
Proses pembelajaran mengarahkan
siswa untuk membangun sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif.
Siswa dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi
dirinya, dan bergelut dengan ide-ide. Sedangkan guru bertugas untuk
memfasilitasi sehingga pengetahuan menjadi bermakna dan relevan bagi siswa
2. Inquiry (Menemukan)
Inquiry merupakan suatu rangkaian
kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk
mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis dan analisis, sehingga
mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya.
3. Questioning (Bertanya)
Bertanya merupakan suatu kegiatan
pembelajaran yang berlangsung secara informatif untuk mendorong, membimbing dan
menilai kemampuan berpikir siswa. Kegiatan bertanya akan mendorong siswa
sebagai partisipan aktif dalam proses pembelajaran.
4. Learning
Community (Masyarakat belajar)
Konsep ini menyarankan agar hasil
pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan teman atau orang lain
(Nurhadi,2002:15).
5. Modelling (Pemodelan)
Pemodelan dalam sebuah pembelajaran
keterampilan atau pengetahuan tertentu maksudnya adalah adanya model yang
ditiru.
6. Reflection (Refleksi)
Refleksi merupakan respon terhadap
kejadian, aktivitas, atau pengetahuan yang baru diterima (Nurhadi,2002:18).
7. Authentic
Assessment (Penilaian yang sebenarnya)
Assessment adalah
proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran mengenai
perkembangan belajar siswa (Nurhadi,2002:19). Penilaian yang dilakukan bukan
hanya karena bisa menjawab serangkaian pertanyaan di atas kertas, tapi juga
kemampuannya dalam mengaplikasikannya, inilah yang disebut authenthic.
Hal-hal yang bisa digunakan sebagai dasar menilai prestasi siswa antara lain:
proyek kegiatan dan laporannya, presentasi atau penampilan siswa, demonstrasi,
dan tes tulis.
E. KESIMPULAN
Pelaksanaan pembelajaran matematika dengan penerapan
pembelajaran cooperative tipe contextual teaching and learning (CTL) akan dapat
memberikan konstribusi dan sebagai salah satu strategi yang tepat dalam
penyampaian materi yang melibatkan siswa secara aktif tanpa kesan bahwa
matematika itu sulit dan kaku.
Pembelajaran CTL melibatkan tujuh komponen utama
yaitu: konstruktivisme, menemukan, bertanya, masyarakat belajar, pemodelan,
refleksi, dan penilaian sebenarnya. Ketujuh komponen tersebut membangun
kerangka berfikir, dimulai dari fakta, data dan konsep. Penggunaan pendekatan
kontekstual dalam pembelajaran matematika akan membantu siswa dan guru mencapai
tujuan pembelajaran secara maksimal.
Senin, 10 Juni 2013
makalah penjaskes
GERAK
DASAR FUNDAMENTAL
OLEH:
NAMA : WAWAN SEPTIAWAN
NIM : 125200019
KELAS : 1A
UNIVERSITAS
VETERAN BANGUN NUSANTARA SUKOHARJO 2012/2013
Minggu, 09 Juni 2013
makalah jenis tulisan
TUGAS
KELOMPOK
JENIS-JENIS
TULISAN
MATA KULIAH BAHASA INDONESIA
KELAS II A PGSD
Anggota Kelompok 3 :
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH
DASAR
UNIVERSITAS VETERAN BANGUN
NUSANTARA
SUKOHARJO
makalah teori erikson
BAB II
PEMBAHASAN
A. TEORI PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL ERIK ERIKSON
Erik Erikson adalah salah satu
diantara para ahli yang melakukan ikhtiar pencarian hakikat manusia. Dari
perspektif psikologi, ia menguraikan manusia dari sudut perkembangannya sejak
dari masa 0 tahun hingga usia lanjut. Erikson beraliran psikoanalisa dan
pengembang teori Freud. Kelebihan yang dapat kita temukan dari Erikson adalah
bahwa ia mengurai seluruh siklus hidup manusia, tidak seperti Freud yang hanya
sampai pada masa remaja. Termasuk disini adalah bahwa Erikson memasukkan
faktor-faktor sosial yang mempengaruhi perkembangan tahapan manusia, tidak
hanya sekedar faktor libidinal sexual.
- . Tentang Erik Erikson (1902-1994)
Erik Erikson lahir di Franfrurt
Jerman, pada tanggal 15 Juni 1902 adalah ahli analisa jiwa dari Amerika, yang
membuat kontribusi-kontribusi utama dalam pekerjaannya di bidang psikologi pada
pengembangan anak dan pada krisis identitas. Ayahnya (Danish) telah meninggal
dunia sebelum ia lahir. Hingga akhirnya saat remaja, ibunya (yang seorang
Yahudi) menikah lagi dengan psikiater yang bernama Dr. Theodor Homberger.
Erikson kecil bukanlah siswa pandai,
karena ia adalah seorang yang tidak menyenangii atmosfer sekolah yang formal.
Ia oleh orang tua dan teman-temannya dikenal sebagai seorang pengembara hingga
ia pun tidak sempat menyelesaikan program diploma. Tetapi perjalanan Erikson ke
beberapa negara dan perjumpaannya dengan beberapa penggiat ilmu menjadikannya
seorang ilmuwan sekaligus seniman yang diperhitungkan. Pertama ia berjumpa
dengan ahli analisa jiwa dari Austria yaitu Anna Freud. Dengan dorongannya, ia
mulai mempelajari ilmu tersebut di Vienna Psychoanalytic Institute, kemudian ia
mengkhususkan diri dalam psikoanalisa anak. Terakhir pada
tahun 1960 ia dianugerahi gelar profesor dari Universitas Harvard.
Setelah
menghabiskan waktu dalam perjalanan panjangnya di Eropa Pada tahun 1933 ia
kemudian berpindah ke USA dan kemudian ditawari untuk mengajar di Harvad
Medical School. Selain itu ia memiliki pratek mandiri tentang psiko analisis
anak. Terakhir, ia menjadi pengajar pada Universitas California di Berkeley,
Yale, San Francisco Psychoanalytic Institute, Austen Riggs Center, dan Center
for Advanced Studies of Behavioral Sciences.
Selama periode
ini Erikson menjadi tertarik akan pengaruh masyarakat dan kultur terhadap
perkembangan anak. Ia belajar dari kelompok anak-anak Amerika asli untuk
membantu merumuskan teori-teorinya. Berdasarkan studinya ini, membuka peluang
baginya untuk menghubungkan pertumbuhan kepribadian yang berkenaan dengan
orangtua dan nilai kemasyarakatan.
Keinginannya
untuk meneliti perkembangan hidup manusia berdasarkan pada pengalamannya ketika
di sekolah. Saat itu anak-anak lain menyebutnya Nordic karena ia tinggi,
pirang, dan bermata biru. Di sekolah grammar ia ditolak karena berlatar
belakang Yahudi.
Buku pertamanya
adalah Childhood dan Society (1950), yang menjadi salah satu buku klasik
di dalam bidang ini. Saat ia melanjut pekerjaan klinisnya dengan anak-anak
muda, Erikson mengembangkan konsep krisis perasaan dan identitas sebagai suatu
konflik yang tak bisa diacuhkan pada masa remaja. Buku-buku karyanya antara lain
yaitu: Young Man Luther (1958), Insight and Responsibility
(1964), Identity (1968), Gandhi's Truth (1969): yang menang pada
Pulitzer Prize and a National Book Award dan Vital Involvement in Old Age
(1986).
2.
Tahap Perkembangan Hidup Manusia
Apakah perkembangan psikososial itu?
Teori Erik Erikson tentang
perkembangan manusia dikenal dengan teori perkembangan psiko-sosial. Teori
perkembangan psikososial ini adalah salah satu teori kepribadian terbaik dalam
psikologi. Seperti Sigmund Freud, Erikson percaya bahwa kepribadian berkembang
dalam beberapa tingkatan. Salah satu elemen penting dari teori tingkatan
psikososial Erikson adalah perkembangan persamaan ego. Persamaan ego
adalah perasaan sadar yang kita kembangkan melalui interaksi sosial. Menurut
Erikson, perkembangan ego selalu berubah berdasarkan pengalaman dan informasi
baru yang kita dapatkan dalam berinteraksi dengan orang lain. Erikson juga
percaya bahwa kemampuan memotivasi sikap dan perbuatan dapat membantu
perkembangan menjadi positif, inilah alasan mengapa teori Erikson disebut
sebagai teori perkembangan psikososial.
Ericson
memaparkan teorinya melalui konsep polaritas yang bertingkat/bertahapan. Ada 8
(delapan) tingkatan perkembangan yang akan dilalui oleh manusia. Menariknya
bahwa tingkatan ini bukanlah sebuah gradualitas. Manusia dapat naik ketingkat
berikutnya walau ia tidak tuntas pada tingkat sebelumnya. Setiap tingkatan
dalam teori Erikson berhubungan dengan kemampuan dalam bidang kehidupan. Jika
tingkatannya tertangani dengan baik, orang itu akan merasa pandai. Jika
tingkatan itu tidak tertangani dengan baik, orang itu akan tampil dengan
perasaan tidak selaras.
Dalam setiap
tingkat, Erikson percaya setiap orang akan mengalami konflik/krisis yang
merupakan titik balik dalam perkembangan. Erikson berpendapat, konflik-konflik
ini berpusat pada perkembangan kualitas psikologi atau kegagalan untuk
mengembangkan kualitas itu. Selama masa ini, potensi pertumbuhan pribadi
meningkat. Begitu juga dengan potensi kegagalan.
a. Tahap 1. Trust vs Mistrust (percaya vs tidak percaya)
- Terjadi pada usia 0 s/d 18 bulan
- Tingkat pertama teori perkembangan psikososial Erikson terjadi antara kelahiran sampai usia satu tahun dan merupakan tingkatan paling dasar dalam hidup.
- Oleh karena bayi sangat bergantung, perkembangan kepercayaan didasarkan pada ketergantungan dan kualitas dari pengasuh kepada anak.
- Jika anak berhasil membangun kepercayaan, dia akan merasa selamat dan aman dalam dunia. Pengasuh yang tidak konsisten, tidak tersedia secara emosional, atau menolak, dapat mendorong perasaan tidak percaya diri pada anak yang di asuh. Kegagalan dalam mengembangkan kepercayaan akan menghasilkan ketakutan dan kepercayaan bahwa dunia tidak konsisten dan tidak dapat di tebak.
b.Tahap 2. Otonomi (Autonomy) VS malu dan ragu-ragu (shame and
doubt)
1. Terjadi pada
usia 18 bulan s/d 3 tahun
2. Tingkat ke dua
dari teori perkembangan psikososial Erikson ini terjadi selama masa awal kanak-kanak
dan berfokus pada perkembangan besar dari pengendalian diri.
3. Seperti Freud,
Erikson percaya bahwa latihan penggunaan toilet adalah bagian yang penting
sekali dalam proses ini. Tetapi, alasan Erikson cukup berbeda dari Freud.
Erikson percaya bahwa belajar untuk mengontrol fungsi tubuh seseorang akan
membawa kepada perasaan mengendalikan dan kemandirian.
4.
Kejadian-kejadian penting lain meliputi
pemerolehan pengendalian lebih yakni atas pemilihan makanan, mainan yang
disukai, dan juga pemilihan pakaian.
5. Anak yang
berhasil melewati tingkat ini akan merasa aman dan percaya diri, sementara yang
tidak berhasil akan merasa tidak cukup dan ragu-ragu terhadap diri sendiri.
c.
Tahap 3. Inisiatif (Initiative)
vs rasa bersalah (Guilt)
1. Terjadi pada
usia 3 s/d 5 tahun.
2. Selama masa
usia prasekolah mulai menunjukkan kekuatan dan kontrolnya akan dunia melalui
permainan langsung dan interaksi sosial lainnya. Mereka lebih tertantang karena
menghadapi dunia sosial yang lebih luas, maka dituntut perilaku aktif dan
bertujuan.
3. Anak yang
berhasil dalam tahap ini merasa mampu dan kompeten dalam memimpin orang lain.
Adanya peningkatan rasa
tanggung jawab dan prakarsa.
4. Mereka yang
gagal mencapai tahap ini akan merasakan perasaan bersalah, perasaan ragu-ragu,
dan kurang inisiatif. Perasaan bersalah yang tidak menyenangkan dapat muncul
apabila anak tidak diberi kepercayaan dan dibuat merasa sangat cemas.
5. Erikson yakin
bahwa kebanyakan rasa bersalah dapat digantikan dengan cepat oleh rasa
berhasil.
d.Tahap 4. Industry vs inferiority (tekun vs rasa rendah diri)
1. Terjadi pada
usia 6 s/d pubertas.
2. Melalui
interaksi sosial, anak mulai mengembangkan perasaan bangga terhadap
keberhasilan dan kemampuan mereka.
3. Anak yang
didukung dan diarahkan oleh orang tua dan guru membangun peasaan kompeten dan
percaya dengan ketrampilan yang dimilikinya.
4. Anak yang
menerima sedikit atau tidak sama sekali dukungan dari orang tua, guru, atau
teman sebaya akan merasa ragu akan kemampuannya untuk berhasil.
5. Prakarsa yang dicapai
sebelumnya memotivasi mereka untuk terlibat dengan pengalaman-pengalaman baru.
6. Ketika beralih
ke masa pertengahan dan akhir kanak-kanak, mereka
mengarahkan energi mereka menuju penguasaan pengetahuan dan keterampilan
intelektual.
7. Permasalahan
yang dapat timbul pada tahun sekolah dasar adalah berkembangnya rasa rendah
diri, perasaan tidak
berkompeten dan tidak produktif.
8. Erikson yakin
bahwa guru memiliki tanggung jawab khusus bagi perkembangan ketekunan
anak-anak.
e. Tahap 5. Identity vs identify confusion (identitas vs kebingungan identitas)
1. Terjadi pada
masa remaja, yakni usia 10 s/d 20 tahun
2. Selama remaja
ia mengekplorasi kemandirian dan membangun kepakaan dirinya.
3. Anak dihadapkan
dengan penemuan siapa mereka, bagaimana mereka nantinya, dan kemana mereka
menuju dalam kehidupannya (menuju tahap kedewasaan).
4. Anak dihadapkan
memiliki banyak peran
baru dan status sebagai orang dewasa –pekerjaan dan romantisme, misalnya, orangtua harus
mengizinkan remaja menjelajahi banyak peran dan jalan yang berbeda dalam suatu
peran khusus.
5. Jika remaja
menjajaki peran-peran semacam itu dengan cara yang sehat dan positif untuk
diikuti dalam kehidupan, identitas positif akan dicapai.
6. Jika suatu
identitas remaja ditolak oleh orangtua, jika remaja
tidak secara memadai menjajaki banyak peran, jika jalan masa depan positif
tidak dijelaskan, maka kebingungan identitas merajalela.
7. Namun bagi
mereka yang menerima dukungan memadai maka eksplorasi personal, kepekaan diri,
perasaan mandiri dan control dirinya akan muncul dalam tahap ini.
8. Bagi mereka
yang tidak yakin terhadap kepercayaan diri dan hasratnya, akan muncul rasa
tidak aman dan bingung terhadap diri dan masa depannya.
f. Tahap 6. Intimacy vs isolation (keintiman vs keterkucilan)
1. Terjadi selama
masa dewasa awal (20an s/d 30an tahun)
2. Erikson percaya
tahap ini penting, yaitu tahap seseorang membangun hubungan yang dekat dan siap
berkomitmen dengan orang lain.
3. Mereka yang
berhasil di tahap ini, akan mengembangkan hubungan yang komit dan aman.
4. Erikson percaya
bahwa identitas personal yang kuat penting untuk mengembangkan hubungan yang
intim. Penelitian telah menunjukkan bahwa mereka yang memiliki sedikit kepakaan
diri cenderung memiliki kekurangan komitemen dalam menjalin suatu hubungan dan
lebih sering terisolasi secara emosional, kesendirian dan depresi.
5. Jika mengalami
kegagalan, maka akan muncul rasa keterasingan dan jarak dalam interaksi dengan
orang.
g. Tahap 7. Generativity vs Stagnation (Bangkit vs Stagnan)
1. Terjadi selama
masa pertengahan dewasa (40an s/d 50an tahun).
2. Selama masa
ini, mereka melanjutkan membangun hidupnya berfokus terhadap karir dan
keluarga.
3. Mereka yang berhasil dalam tahap ini, maka
akan merasa bahwa mereka berkontribusi terhadap dunia dengan partisipasinya di
dalam rumah serta komunitas.
4. Mereka yang gagal melalui tahap ini, akan
merasa tidak produktif dan tidak terlibat di dunia ini.
h. Tahap 8. Integrity vs depair (integritas vs putus asa)
1. Terjadi selama
masa akhir dewasa (60an tahun)
2. Selama fase ini
cenderung melakukan cerminan diri terhadap masa lalu.
3. Mereka yang
tidak berhasil pada fase ini, akan merasa bahwa hidupnya percuma dan mengalami
banyak penyesalan.
4. Individu akan
merasa kepahitan hidup dan putus asa
5. Mereka yang
berhasil melewati tahap ini, berarti ia dapat mencerminkan keberhasilan dan
kegagalan yang pernah dialami.
6. Individu ini
akan mencapai kebijaksaan, meskipun saat menghadapi kematian.
B.
Perbandingan dengan teori Sigmudn Freud
Erikson adalah pengembang teori Freud dan mendasarkan
kunstruk teori psikososialnya dari psiko-analisas Freud. Kalau Freud memapar
teori perkembangan manusia hanya sampai masa remaja, maka para penganut teori
psiko-analisa (freudian) akan menemukan kelengkapan penjelasan dari Erikson,
walaupun demikian ada perbedaan antara psikosexual Freud dengan psikososial
Erikson. Beberapa
aspek perbedan tersebut dapat dilihat di bawah ini:
|
Erikson
|
|
|
Perenan/fungsi id dan ketidaksadaran
sangat penting
|
Peran/fungsi ego lebih ditonjolkan, yang berhubungan
dengan tingkah laku yang nyata.
|
|
Hubungan segitiga antara anak, ibu dan ayah menjadi
landasan yang terpenting dalam perkembangan kepribadian.
|
Hubungan-hubungan yang penting lebih luas, karena
mengikutsertakan pribadi-pribadi lain yang ada dalam lingkungan hidup yang
langsung pada anak. Hubungan antara anak dan orang tua melalui pola
pengaturan bersama (mutual regulation).
|
|
Orientasi patologik, mistik karena berhubungan dengan
berbagai hambatan pada struktur kepribadian dalam perkembangan kepribadian.
|
Orientasinya optimistik, kerena kondisi-kondisi dari
pengaruh lingkungan sosial yang ikut mempengaruhi perkembang kepribadian anak
bisa diatur.
|
|
Timbulnya berbagai hambatan dalam
kehidupan psikisnya karena konflik internal, antara id dan super ego.
|
Konflik timbul antara ego dengan
lingkungan sosial yang disebut: konflik sosial.
|
C.
Implikasi dan Kritik terhadap Teori
Erikson
Seperti tahap-tahap
piaget,tidak semua orang mengalami krisi-krisis Erikson dengan kadar yang sama
atau pada waktu yang sama.Rentang usia yang disebutkan disini mungkin
melambangkan waktu terbaik bagi suatu krisis untuk diselesaikan,tetapi bikan
itu satu-satunya waktu yang memungkinkan.Mislnya,anak yang terlahir dalam
keluarga berantakan yang tidak berhasil memberikannya rasa aman yang memadai
mungkin saja mengembangkan kepercayaan setelah diadopsi atau dibawa ke
lingkungan yang lebih stabil.Orang yang pengalaman sekolah negatifnya dan
memberinya rasa inferioritas,ketika dia memasuki dunia kerja,mungkin saja dia
menemukan bahwa dia dapat belajar dan bahwa dia benar-benar mempunyai kemampuan
yang bernilai,kesadarna yang pada akhirnya dapat membantunya mengatasi krisis
kemegahan versus inferioritas yang telah diatasi orang lain pada tahun-tahun
sekolah dasarnya.Teori Erikson menekankan peran lingkungan dalam meyebabkan
risis maupun dalam menentukan cara dalam mengatasi krisis itu.Tahap-tahap
perkembangan pribadi dan social dilanjutkan melalui interaksi terus-menerus
dengan orang lain dan dengan masyarakat sebagai keseluruhan.Selama ketiga tahap
pertama,interaksi terutama berlangsung dengan orang tua dan anggota keluarga
lain,tetapi sekolah memainkan peran utama bagi kebanyakan anak pada tahap
IV(kemegahan versus inferioritas) dan tahap V (identitas versus kebingungan
peran).
Teori
Erikson menjelaskan masalah-masalah dasar yang dihadapi orang ketika dia
menjalani kehidupan.Namun,teorinya telah dikritik karena teori tersebut tidak
menjelaskan bagaiman atau mengapa orang melangkah dari satu tahap ke tahap lain
dan karena teori itu sulit dipastikan melalui riset(Green,1989;Miller,1993)
Daftar Pustaka
Jhon W. Santrock, Life-Span Development, University
of Texas at Dallas, 1995
Singgih D. Gunarsa, Dasar dan Teori Perkembangan Anak, Gunung
Mulia, Jakarta, 1990
Sarlito W Sarwono, Berkenalan dengan Aliran-aliran dan
Tokoh Psikologi, Bulan Bintang, Jakarta, 2002
Langganan:
Komentar (Atom)